Menghadapi Anak yang Terlambat Baca, Tulis dan Hitung

 

Cara Belajar Membaca Mungkin dari anda ada yang pernah mendengar keluh kesah teman, saudara, tetangga atau bahkan diri anda sendiri yang pernah mengalami saat anak umur SD terlambat dalam membaca, mencatat dan berhitung. Melihat situasi demikian, orang tua manapun tentunya bakal khawatir, gelisah dan takut, apakah situasi anaknya normal. Apalagi bila teman-teman seusia anaknya sudah dapat membaca, mencatat dan berhitung. Sebagai orang tua seringkali juga bakal merasa malu dan cemas bila disangka orang mereka tidak dapat mengajarkan anaknya. Untuk situasi psikis si anak tersebut sendiri pun terkadang menjadi hambatan, sebab yang sering terjadi si anak menjadi bahan ledekan teman-temannya.

Melihat situasi ini usahakan anda harus mempelajari sebab-sebab keterlambatannya, lantas melakukan terapi sesuai suasana yang dialaminya, sampai-sampai masalahnya tidak semakin membesar. Hal ini guna mencegah supaya kondisi si anak tidak semakin memburuk andai penanganannya terlambat. Kondisi keterlambatan membaca, mencatat dan berhitung ini dikenal dengan istilah disleksia.

Bagi guru atau orang yang tidak mengetahui tentang disleksia, mereka bakal memberi cap untuk anak itu sebagai anak yang bodoh. Padahal, menurut keterangan dari Ketua Pelaksana Harian Asosiasi Disleksia Indonesia (ADI), dr Kristiantini Dewi, SpA mengatakan, disleksia adalahkelainan genetik yang berbasis neurologis. Gangguan ini sama sekali tidak terdapat kaitannya dengan kebodohan, tingkat ekonomi maupun semangat belajar. Penyandang disleksia sebenarnya mempunyai Intelegency Quotient (IQ) dalam tingkat yang normal atau bahkan di atas rata-rata. Mereka melulu mengalami kendala berbahasa, baik tersebut menulis, mengeja, membaca, maupun menghitung.

Apakah disleksia ?
Berdasarkan keterangan dari wikipedia bahasa Indonesia, disleksia ialah sebuah situasi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang diakibatkan oleh kendala pada orang itu dalam melakukan kegiatan membaca dan menulis. Pada lazimnya keterbatasan ini melulu ditujukan pada kendala seseorang dalam menyimak dan menulis, akan namun tidak terbatas dalam perkembangan keterampilan standar yang lain laksana kecerdasan, keterampilan menganalisa dan pun daya sensorik pada indera perasa.

Terminologi disleksia juga dipakai untuk merujuk untuk kehilangan keterampilan membaca pada seseorang dikarenakan dampak kerusakan pada otak. Disleksia pada tipe ini tidak jarang disebut sebagai Aleksia. Di samping mempengaruhi keterampilan membaca dan menulis, disleksia ditengarai pun mempengaruhi kemampuan berkata pada sejumlah pengidapnya. Para peneliti mengejar disfungsi ini diakibatkan oleh situasi dari biokimia benak yang tidak stabil dan pun dalam sejumlah hal dampak bawaan keturunan dari orang tua.

Bagaimana mengenali firasat disleksia ?

Berdasarkan keterangan dari Konsultan Neuropediatri dari Asosiasi Disleksia Indonesia, dr Purboyo Solek, Sp A (K), disleksia seringkali diketahui pada umur 7 tahun, anak mengalami kendala membaca dan mengeja. Gangguan ini bertolak belakang dengan gangguan belajar biasa, sebab kesulitan melafalkan pada penyandang disleksia bukan diakibatkan oleh kurangnya kecerdasan. Gangguan ini adalahkelainan genetik yang dirasakan individu dengan Intelegency Quotient (IQ) normal atau bahkan di atas rata-rata. Karena tidak jarang terlambat diketahui, disleksia tidak sedikit memberi akibat pada masalah belajar di sekolah. Di samping nilainya merosot, tak jarang penyandang disleksia merasakan tekanan psikologis sebab tidak percaya diri atau bahkan menjadi korban bullying (pelecehan) dari teman-teman sekolahnya.
Untuk memudahkan untuk para orang tua dan guru dalam menyimak perkembangan anak dan mengerjakan deteksi dini atas firasat disleksia, ialah sebagai inilah :

1. Kesulitan memisahkan sisi kanan dan kiri yang dirasakan saat anak berusia 3 tahun
2. Cara si anak bertutur atau mengisahkan pengalaman. Misalnya bila ditanya ‘bagaimana tadi di sekolah?’ Kalau jawabnya ‘ya, pokoknya gitu deh’ maka orang tua butuh waspada.
3. Bila terjatuh/kejedot walaupun sampai benjol besar, seringkali tidak menangis sebab tidak menikmati sakit. Hal ini dampak ada syaraf yang tidak klik laksana orang normal sampai-sampai dia tidak dapat merespons rasa sakit
4. Terlambat bicara
5. Kesulitan guna berkonsentrasi
6. Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya
7. Kesulitan menciptakan pekerjaan tertulis secara terstruktur contohnya esai
8. Huruf suka tertukar, contoh ’b’ tertukar ’d’, ’p’ tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, dan ’s’ tertukar ’z’
9. Daya ingat jangka pendek yang buruk
10. Kesulitan mengetahui kalimat yang dibaca ataupun yang didengar
11. Tulisan tangan yang buruk
12. Mengalami kendala mempelajari artikel sambung
13. Ketika memperhatikan sesuatu, rentang perhatiannya pendek
14. Kesulitan dalam menilik kata-kata
15. Kesulitan dalam diskriminasi visual
16. Kesulitan dalam persepsi spatial
17. Kesulitan menilik nama-nama
18. Kesulitan/lambat menggarap PR
19. Kesulitan mengetahui konsep waktu
20. Kesulitan memisahkan huruf vokal dengan konsonan
21. Kebingungan atas konsep alfabet dan simbol
22. Kesulitan menilik rutinitas kegiatan sehari-hari
23. Membaca lambat dan terputus-putus serta tidak tepat
24. Menghilangkan atau salah baca kata penghubung (“di”, “ke”, “pada”).
25. Mengabaikan kata awalan pada waktu menyimak (”menulis” dibaca sebagai ”tulis”)
26. Tidak dapat menyimak ataupun membunyikan ucapan yang tidak pernah dijumpai
27. Tertukar-tukar kata (misalnya: dia-ada, sama-masa, lagu-gula, batu-buta, tanam-taman, dapat-padat, mana-nama). Sehingga sering kendala dalam memilih kosa kata yang tepat. Misalnya menuliskan “kolam yang tebal”, sebenarnya maksudnya “kolam yang dalam”.
28. Sering salah mengutip dari papan tulis walau selalu duduk sangat depan
29. Tidak pernah sukses menggambar kubus, tidak jarang kali menjadi trapesium
30. Miskin kosa kata, tidak sedikit menggunakan kata ganti ‘ini-itu
Bagaimana penanganan disleksia ?
dr. Purboyo mengatakan, meskipun disleksia tidak bisa diobati, gangguan ini dapat diatasi dengan penanganan yang tepat. Ada 2 jenis penanganan guna disleksia yaitu remedial dan akomodasi.
1. Remedial, berarti mengulang-ulang pelajaran belajar hingga benar-benar paham. Kadang-kadang pengulangan dilaksanakan untuk mempelajari keperluan penyandang disleksia, bersangkutan teknik yang terkaitdalam mengetahui suatu hal. “Kalau anak normal mudah mengetahui huruf A dari bentuknya yang demikian, penyandang disleksia belum tentu laksana itu. Cara otak mengetahui sesuatu dapat berbeda, contohnya A dicerna sebagai suatu bangun dengan sudut-sudut tertentu,” ungkap dr.Purboyo.
2. Penanganan akomodasi, yaitu memenuhi keperluan khusus penyandang disleksia. dr.Purboyo mencontohkan, ujian guna penyandang disleksia dapat diberikan dengan masa-masa yang lebih longgar dan soalnya dicetak dengan huruf yang tidak terlampau rapat.

 

 

 

 

 

Leave a Comment